welcome to adventures my blog

Kamis, 21 Maret 2013

Behind The Scenes Life Education


Manusia diciptakan oleh Allah selain menjadi hamba-Nya, juga menjadi khalifah di bumi. Sebagai hamba dan khalifah, manusia telah diberi kemampuan jasmaniah dan rohaniah yang dapat ditumbuh kembangkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam usahanya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupan di dunia. Untuk menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut, pendidikan merupakan sarana yang menentukan dimana titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikannasional, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[1]
Dorongan ingin tahu (curiosity) sebagai hasrat alamiah manusia merupakan entry point bagi lahirnya segala ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kelahiran ilmu pengetahuan akan selalu diawali oleh rasa keingintahuan manusia akan segala sesuatu. [2]
Hal pertama yang perlu dikemukakan di sini adalah bahwa pendidikan Islam sangatlah berbeda dengan dakwah Islam. Diakui Azyumardi Azra bahwa memang pendidikan Islam pada awalnya pertumbuhannya bersentuhan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyah. Hal ini terbukti dengan dijadikannya rumah al-Arqam sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus pusat dakwah Islam. Akan tetapi, melalui proses historis yang panjang, pendidikan Islam lambat laun memformalkan dirinya menjadi sebuah sistem pendidikan Islam yang berbeda dengan dakwah Islam. Menurut Muhammad Jamal, keduanya dapat dibedakan dari segi objek formalnya. Objek pendidikan Islam adalah subjek didik yang dididik dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, sedangkan objek dakwah Islam adalah masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam sehingga para rasul diutus untuk meluruskannya. Inti pendidikan Islam menurut Jawwad Rida adalah pemikiran yang memandang Islam sebagai “madrasah” ( tempat belajar) bagi umat Islam. Dengan pengertian ini, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai usaha yang dilakukan Islam dalam rangka pembentukan masyarakat “baru” yang merupakan lawan dari masyarakat Jahilliyah. Hal senada juga diungkapkan oleh Sultan bahwa Islam adalah sesuatu kekuatan edukatif ( quwwah tarbawiyah), dalam arti bahwa Islam memiliki peranan edukatif dalam membentuk suatu masyarakat agar mempunyai nilai-nilai moral dan sosial dalam pengertiannya yang luas.[3]
Dalam pendidikan sendiri ada tiga lembaga yang menjadi pusat pendidikan dan saling berkaitan satu sama lain. Istilah ini biasa disebut Ki Hajar Dewantara sebagai tripusat pendidikan, dalam memberdayakan semua unsur masyarakat untuk membangun pendidikan, yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat. Di rumah atau di dalam keluarga, anak berinteraksi dengan orang tua dan keluarga lainnya. Ia memperoleh pendidikan informal, berupa pembentukan pembiasaan-pembiasaan. Di sekolah anak berinteraksi dengan guru, teman, peserta didik lainnya, serta pegawai-pegawai tata usaha. Ia memperoleh pendidikan formal (terprogram dan terjabarkan dengan tetap) berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan, mata pelajaran. Di masyarakat anak berinteraksi dengan masyarakat yang beraneka macam. Ia memperoleh pendidikan nonformal berupa berbagai pengalaman hidup.
Untuk membina anak agar mempunyai sifat-sifat terpuji, tidak dengan hanya pengertian saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan hal yang baik. Orang tua adalah pribadi utama dan pertama yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Perilaku yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pada anak. Begitu pula sebaliknya, perilaku yang buruk akan berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Allah SWT. Berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).[4]
            Beberapa waktu lalu kabar berita kasus video porno dikalangan remaja sangat mencengangkan salah satunya kota Blitar juga digegerkan dengan beredarnya video porno yang dilakukan oleh seorang siswi SMA di Kademangan. Dalam adegan itu, kedua pelaku melakukan hubungan layaknya suami istri. Salah seorang pemuda bernama Yuli menuturkan bahwa video porno itu beredar dikalangan pelajar sejak seminggu lalu. Yakni, beredar melalui fasilitas Bluetooth di ponsel milik beberapa pelajar. Infonya, aksi ini dilakukan pada pertengahan Desember 2009.
Dari kasus tersebut, bisa disimpulkan bahwa betapa pentingnya pendidikan pribadi yang positif, dan lebih baik pada peserta didik. Hal ini juga tidak lepas dari tanggung jawab dan peran serta orang tua dalam mengembangkan dan mengarahkan pribadi anak. Oleh karenanya, penulis merasa sangat tertarik untuk mengadakan penelitian sejauh mana peran orang tua dalam mengembangkan pribadi Muslim pada anak


[1] UU RI No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 31


[2] Toto Suharto, “Filsafat Pendidikan Islam”, Cet. I, ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 1.
[3] Toto Suharto, “Filsafat Pendidikan Islam”, Cet. I, ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 21-22.

[4] Terjemah  Al-Qur’an Al-Karim (Bandung: PT AL-MA’ARIF, 2000), hlm. 79.

Opini education


Pedulikah Anda Dengan Pendidikan????.....
opini


          Pendidikan, itulah yang sering diperdebatkan dalam kalangan Guru, Mahasiswa, Pemerintah, Masyarakat dan Orang tua. Kalau sebagai pengusaha menginvestasikan hasil dari perusahaanya untuk kebutuhan yang akan datang, maka SDM menginvestasikan pendidikan sebagai kebutuhan masa depan dan sabagai faktor penentu dalam pembentukan SDM yang berkualitas.
            Sebagai warga negara yang baik, siapapun dan apapun profesinya, tentu kita perlu ikut ambil bagian dalam memecahkan persoalan ini. Jangan sampai menunggu dan hanya berdiam diri apalagi pada saat sekarang ini pendidikan di Indonesia masih banyak yang harus di perbaiki dari segala sektor pendidikan.

(ai kurniawan)