welcome to adventures my blog

Minggu, 24 Maret 2013

Learning Implementation Plan


 
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Satuan Pendidikan    : MADRASAH ALIYAH NEGERI KOTABUMI
Kelas                           :  XII / Genap
Program Keahlian     : IPA
Mata Pelajaran          : AKIDAH AHLAK

  •  Standar Kompetensi
-          Meningkatkan keimanan kepada malaikat-malaikat Allah.

  • Kompetensi Dasar
-          Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat-malaikat Allah swt.

  •   Indikator
-          Menjelaskan Pengertian Iman Kepada Malaikat Allah swt.
-          Menjelaskan Sifat-sifat Malaikat Allah swt.
-          Menjelaskan Nama-nama Malaikat dan Tugasnya.





  • Tujuan pembelajaran
Siswa diharapakan mampu untuk :
-          Menjelaskan Pengertian Iman Kepada Malaikat Allah swt.
-          Menjelaskan Sifat-sifat Malaikat Allah swt.
-          Menjelaskan Nama-nama Malaikat dan Tugasnya.


  • Materi Ajar ( materi pokok )
-          Pengertian Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah swt.
-          Sifat-sifat Malaikat
-          Nama-nama Malaikat dan Tugasnya.

  •   Metode Pembelajaran
-          Ceramah
-          Tanya jawab
-          Diskusi
  • Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
a.      Kegiatan awal
Apersepsi :
-          Guru menyampaikan secara singkat adanya keterkaitan materi yang akan diajarakan dengan materi yang sudah dipelajari
#  karakter yang diharapakan :
1.      Semangat
2.      Rajin
             Motivasi :
-          Memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah swt.


#  karakter yang diharapakan :
1.      Semangat .
2.      Berahlak mulia dan Patuh.
3.      Saling Menghargai

b.      Kegiatan inti
Elaborasi :
Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah swt.
-          Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contohnya :
1.      Siapakah nama-nama Malaikat Allah swt ?
2.      Sifat apakah yang dimiliki malaikat Allah swt ?
3.      Apa saja Tugas malaikat-malaikat Allah swt?

-          Karakter yang diharapakan :
1.      Rajin
2.      Teliti dan cermat

Eksplorasi :
-          Menjelaskan tentang iman kepada malaikat Allah swt.
-          Menyebutkan nama-nama malaikat Allah swt.
-          Menjelaskan tugas-tugas malaikat Allah swt.
# karakter yang diharapkan :
1.      Berahlak mulia
2.      Saling menghargai
Konfirmasi :
-          Menarik kesimpulan tentang Iman kepada malaikat Allah swt.
-          Menyarankan agar siswa dirumah dapat mempelajari apa yang telah disampaikan.
#  karakter yang diharapkan :
1.      Taat beribadah
2.      Tenggang rasa dan saling menghargai.

c.       Kegiatan penutup
-          Guru menutup pelajaran tersebut dengan mengucap lafad Al-Hamdalah
-          Guru mengucap salam sebelum meninggalkan kelas
# Karakter yang diharapkan :
1.      Sopan
2.      Rajin

  • Bahan dan Sumber Belajar
-          LKS/ Buku Cetak
-          Laptop, LCD Proyektor

  •   Penilaian
-          Tes Tanya Jawab
Soal lisan :
1.      Jelaskan secara singkat pengertian iman kepada malaikat Allah?
2.      Sebutkan nama-nama malaikat Allah swt?
3.      Sebutkan tugas-tugas malaikat Allah swt?







Kunci jawaban :
1.      Mempercayai keberadaanya sebagai mahluk gaib ciptaan Allah swt, serta meyakini jenis-jenis tugas yang diamanahkan kepadanya.
2.      Jibril, Mikail, Isrofil Izroil, Roqib,  Atit, Munkar, Nakir, Malik, Ridwan.
3.      Jibril: menyampaikan wahyu, Mikail: Membagikan rizki, Isrofil: Meniup sangkakala/trompet, Izroil: Mencabut Nyawa, Raqib: Mancatat amal baik, Atit: mencatat amal buruk, Munkar: Menanyai dalam kubur, Nakir: Menanyai dalam kubur, Malik: Menjaga neraka, Ridwan: Menjaga Surga.




            Kepala Sekolah,                                                          Guru Mata Pelajaran,


         Saya sendiri                                                        Ahmad Idris Kurniawan. S.Pd.I

Kamis, 21 Maret 2013

Behind The Scenes Life Education


Manusia diciptakan oleh Allah selain menjadi hamba-Nya, juga menjadi khalifah di bumi. Sebagai hamba dan khalifah, manusia telah diberi kemampuan jasmaniah dan rohaniah yang dapat ditumbuh kembangkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam usahanya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupan di dunia. Untuk menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut, pendidikan merupakan sarana yang menentukan dimana titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikannasional, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[1]
Dorongan ingin tahu (curiosity) sebagai hasrat alamiah manusia merupakan entry point bagi lahirnya segala ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kelahiran ilmu pengetahuan akan selalu diawali oleh rasa keingintahuan manusia akan segala sesuatu. [2]
Hal pertama yang perlu dikemukakan di sini adalah bahwa pendidikan Islam sangatlah berbeda dengan dakwah Islam. Diakui Azyumardi Azra bahwa memang pendidikan Islam pada awalnya pertumbuhannya bersentuhan dengan upaya-upaya dakwah Islamiyah. Hal ini terbukti dengan dijadikannya rumah al-Arqam sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus pusat dakwah Islam. Akan tetapi, melalui proses historis yang panjang, pendidikan Islam lambat laun memformalkan dirinya menjadi sebuah sistem pendidikan Islam yang berbeda dengan dakwah Islam. Menurut Muhammad Jamal, keduanya dapat dibedakan dari segi objek formalnya. Objek pendidikan Islam adalah subjek didik yang dididik dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, sedangkan objek dakwah Islam adalah masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam sehingga para rasul diutus untuk meluruskannya. Inti pendidikan Islam menurut Jawwad Rida adalah pemikiran yang memandang Islam sebagai “madrasah” ( tempat belajar) bagi umat Islam. Dengan pengertian ini, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai usaha yang dilakukan Islam dalam rangka pembentukan masyarakat “baru” yang merupakan lawan dari masyarakat Jahilliyah. Hal senada juga diungkapkan oleh Sultan bahwa Islam adalah sesuatu kekuatan edukatif ( quwwah tarbawiyah), dalam arti bahwa Islam memiliki peranan edukatif dalam membentuk suatu masyarakat agar mempunyai nilai-nilai moral dan sosial dalam pengertiannya yang luas.[3]
Dalam pendidikan sendiri ada tiga lembaga yang menjadi pusat pendidikan dan saling berkaitan satu sama lain. Istilah ini biasa disebut Ki Hajar Dewantara sebagai tripusat pendidikan, dalam memberdayakan semua unsur masyarakat untuk membangun pendidikan, yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat. Di rumah atau di dalam keluarga, anak berinteraksi dengan orang tua dan keluarga lainnya. Ia memperoleh pendidikan informal, berupa pembentukan pembiasaan-pembiasaan. Di sekolah anak berinteraksi dengan guru, teman, peserta didik lainnya, serta pegawai-pegawai tata usaha. Ia memperoleh pendidikan formal (terprogram dan terjabarkan dengan tetap) berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan, mata pelajaran. Di masyarakat anak berinteraksi dengan masyarakat yang beraneka macam. Ia memperoleh pendidikan nonformal berupa berbagai pengalaman hidup.
Untuk membina anak agar mempunyai sifat-sifat terpuji, tidak dengan hanya pengertian saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan hal yang baik. Orang tua adalah pribadi utama dan pertama yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Perilaku yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pada anak. Begitu pula sebaliknya, perilaku yang buruk akan berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Allah SWT. Berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).[4]
            Beberapa waktu lalu kabar berita kasus video porno dikalangan remaja sangat mencengangkan salah satunya kota Blitar juga digegerkan dengan beredarnya video porno yang dilakukan oleh seorang siswi SMA di Kademangan. Dalam adegan itu, kedua pelaku melakukan hubungan layaknya suami istri. Salah seorang pemuda bernama Yuli menuturkan bahwa video porno itu beredar dikalangan pelajar sejak seminggu lalu. Yakni, beredar melalui fasilitas Bluetooth di ponsel milik beberapa pelajar. Infonya, aksi ini dilakukan pada pertengahan Desember 2009.
Dari kasus tersebut, bisa disimpulkan bahwa betapa pentingnya pendidikan pribadi yang positif, dan lebih baik pada peserta didik. Hal ini juga tidak lepas dari tanggung jawab dan peran serta orang tua dalam mengembangkan dan mengarahkan pribadi anak. Oleh karenanya, penulis merasa sangat tertarik untuk mengadakan penelitian sejauh mana peran orang tua dalam mengembangkan pribadi Muslim pada anak


[1] UU RI No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 31


[2] Toto Suharto, “Filsafat Pendidikan Islam”, Cet. I, ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 1.
[3] Toto Suharto, “Filsafat Pendidikan Islam”, Cet. I, ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 21-22.

[4] Terjemah  Al-Qur’an Al-Karim (Bandung: PT AL-MA’ARIF, 2000), hlm. 79.